Mengarungi Bahari, Membangun Negeri


 

Riau Post 26 Agustus 2007 Pukul 10:00

Oleh Muhammad Syukur

Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra
Penulis       : Gusti Asnan
Penerbit     : Ombak, Yogyakarta
Cetakan     : Pertama, 2007
Tebal         : xv + 404 halaman

 

Kita tidak bisa menutup mata bahwa lautan memainkan peranan terpenting dalam sejarah bangsa ini. Lewat laut, berbagai peradaban dan kebudayaan dari berbagai belahan dunia seperti India, Arab, China, dan Eropa masuk ke negeri ini. Dan yang terpenting, laut merupakan pemersatu gugusan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.  Lautan dan pulau-pulau diakui sebagai satu kesatuan yang membuat bangsa ini ada. Sebab itu, nusantara ini disebut sebagai Tanah Air.

 

Lahirnya konsep Djuanda tahun 1957 serta konsep Wawasan Nusantara yang tertuang dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1988 merupakan tonggak-tonggak penting pengakuan bangsa Indonesia terhadap kepaduan antara tanah (pulau-pulau) dan air  (laut) bagi penyatuan dan kesatuan bangsanya. Keputusan yang diambil oleh para pemimpin bangsa dan wakil-wakil rakyat itu mengukuhkan ungkapan Indonesia Tanah Airku sehingga menjadikan negara ini sebagai sebuah Negara kepulauan, sebuah negara yang wilayahnya terdiri atas tanah (pulau-pulau) dan air (laut).


Gustian Asnan, melalui buku ini, mengupas dua aspek, yaitu perdagangan dan pelayaran. Dua aspek ini, menurut penilaian Asnan, merupakan penggerak terpenting dalam dunia maritim Indonesia, sebab aspek-aspek lain akan berjalan dinamis bila aspek perdagangan dan pelayaran berkembang dengan baik. Melalui kedua aspek ini, terjadi silang tukar budaya antara pribumi dan pendatang, yang kemudian memberi pengaruh besar terhadap pekembangan kebudayaan Tanah Air.
Asnan membatasi penelitian sejarah ini pada Pantai Barat Sumatera guna membangun sebuah kronik umum terhadap perkembangan dunia maritim Indonesia. Sejak masa kerajaan Sriwijaya, dunia maritim dan kedigdayaannya telah diakui. Hingga masa kolonialisme Belanda, dunia maritim semakin memainkan peranan penting. Menurut hasil penelitian Asnan, kehadiran pemerintah kolonialisme Belanda yang diringi dengan kepentingan politik, ekonomi dan budaya telah membawa perkembangan yang signifikan, meski ia sarat dengan muatan monopoli perdagangan.

Pemerintah Hindia Belanda sangat menyadari betapa bahari memainkan peranan penting untuk memperlancar akses perkembangan dan pertumbuhan. Sebab, jalan satu-satunya menempuh pulau-pulau terpencil adalah dengan pelayaran. Pantas saja bila pemerintah Hindia Belanda rela mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk mengamankan lautan.

Ada beberapa hal yang menarik dari kiprah pemerintahan kolonial Belanda guna pengembangan aspek maritim pada kawasan ini.  Pertama, Belanda berusaha untuk mengadakan jalur transportasi yang baik antara daerah pedalaman dengan kawasan ini agar pendistribusian berjalan dengan baik. Kedua, Belanda berusaha untuk membangun pelabuhan-pelabuhan di sekitar pantai agar kawasan ini menjadi pusat perdagangan. Ketiga, Belanda berusaha mengadakan sistem keamanan laut beserta tindakan yang tegas terhadap pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan bajak laut, pencurian kekeyaan laut secara ilegal dan berbagai perompakan dengan menyediakan anggaran yang besar.

 


Fenomena yang terjadi dalam konteks keindonesiaan sekarang, seperti contoh di atas, barang kali berangkat dari potret lain kolonilisme Belanda yang tergambar dalam kegiatan di pantai barat Sumatera, dan daerah lainnya, dengan politiknya subur garap-tandus tinggalkan. Politik ini adalah sebuah peranalogian tingkah laku anak manusia yang eksploitatif terhadap suatu kawasan dengan hanya dilihat dari sisi produktifitas ekonomis belaka. Semestinya, sebagaimana menurut Asnan, laut menjadi perhatian bersama demi persatuan dan kesatuan, demi penguasaansecara verbalatas kawasan perairan, sehingga tidak ada lagi.
Berangkat dari fenomena yang telah disebutkan di atas, kajian ini mencoba menyibakkan lembaran buram tentang dunia maritim tersebut. Selain itu, kehadiran buku ini sekaligus akan mengubah mitos lama dan membuka lembaran baru dalam kajian dunia bahari. Sayangnya, buku yang berangkat dari sebuah disertasi di Universitas Bermen, Jerman ini masih kaku dan tekesan bertele-tele dalam penyampaian dan analisa data. Namun, mungkin, itu suatu kelebihan bagi buku yang berusaha memulai kembali mengkaji bahari nusantara yang luas ini.***

Muhammad Syukur
Anggota Himpunan Mahasiswa Riau UIN Sunan Kalijaga (HIMARISKA), Yogyakarta.

 




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: