Mengangkat Harkat dan Martabat Pelaut Indonesia


Saya mau melihat dari sudut marketing, boleh kan om?

Marilah kita lihat sejenak kesiapan pelaut Indonesia dalam sudut pandang marketing (pemasaran). Kalau kita mau menjual produk, maka produk kita harus mempunyai nilai lebih dari produk lain. Kalau tidak lebih, tapi mempunyai kelabihan khusus yang tidak dipunyai oleh produk lain. Ini dalam ilmu marketing disebut sebagai atribut.

Misalnya, produk kita adalah roti, coba lihat, donat bisa menciptakan roti yang bolong, seperti ban mobil. Sehingga kelihatan lain dari yang lain. Pada hal itu kan adalah roti goreng juga.

Sebelumnya perlu diketahui adalah tentang apa itu produk? Produk adalah sesuatu yang dideliver (diserahkan) kepada konsumen, dimana si pemakai produk tersebut mendapat kan manfaat terhadap produk yang dibelinya. Produk ada yang nyata seperti ballpoint, pensil dll. Ada juga produk yang berupa jasa, yang tidak dapat dilihat, seperti misalnya jasa transportasi (tempat duduk di bus, kereta api atau pesawat), jasa perlindungan berupa asuransi atau juga body guard. Jasa tenaga kerja, dimana produknya berupa jasa mengerjakan sesuatu.

Selanjutnya tenaga kerja, sebetulnya itu kan juga berupa produk. Yaitu produk jasa yang bersifat tenaga kerja. Jadi kalau kita menjualnya, sudah barang tentu jelas apa yang kita akan deliver kepada sipemakai? Seberapa tinggi kualitas yang kita dapat deliver? Apa yang dapat kita deliver yang melebihi dari standar minimum yang ada. Kelebihan inilah yang disebut atribut tadi.

Banyak orang Indonesia, sewaktu mencari kerja, bila ditanya bisa mengerjakan apa? Maka akan dijawab semua bisa, pada hal dia semua pekerjaan tidak bisa dilakukan dengan standar minimumnya saja. Mencari kerja seharusnya menetukan dulu apa yang dapat dikerjakan dan hal tersebut mempunyai bukti dan kalau dapat sertifikat.

Ada yang bisa mencapai standar minimum dan bahkan melebihinya, tapi tidak mempunyai sertifikat yang sesuai keterampilannya tersebut. Hal yang begini jadi sulit menembus proses seleksi administrasi. Seleksi administrasi saja sudah tidak tembus, tidak mungkin lagi untuk mengikuti proses selanjutnya.

Misal seorang yang melamar sebagai tukang las, apa memang bisa mengelas? Apa ada sertifikat las? Mempunyai sertifikat keselamatan kerja atau nggak? Dan banyak lagi, atribut lainnya.

Demikian juga untuk pelaut, misalnya seorang A/B apa sudah mempunyai keterampilan minimum? Apa sudah mempunyai sertifikat yang sesuai (STCW)? Apa keterampilan yang dia miliki sesuai dengan sertifikat yang dipegang (BST, Watchkeeping)? Dua yang terkhir ini minimum lho.

Sekarang BST, apa saja isinya? Apa memang sudah dikuasai dengan baik? Isinya kan ada 4 atau 5 katagori (lupa tolong perbaiki jika salah, sudah 20 tahun didarat soalnya), yaitu: Menyelamatkan diri dilaut, alat keselamatan, fire knowledge dan firefighting, relationship on board.

Kalau 3 yang awal sudah banyak dibahas dan diketahui dan bisa dipraktekan sebelum kekapal, tapi yang terakhir ini sangat diperlukan, sebab banyak bagi yang baru, terutama kapal asing, akan terjadi nanti “culture shock” (kegamangan kebudayaan). Dimana dikapal akan bertemu bermacam budaya dari bermacam negara. Bermacam daerah saja bisa-bisa juga mengalami culture shock ini. Apalagi bermacam negara, bangsa dan agama yang kelakuannya juga kadang beraneka ragamnya. Standard hak asasi manusianya juga bermacam. Coba bayangkan, jika berkomunikasi juga tidak sanggup atau kurang lancar. Sangat diperparah lagi kalau alat komunikasi utama saja tidak dikuasai, yaitu “Bahasa Inggris”. Bagaimana sanggup mengatasi culture shock ini dengan “bisu” alias tidak dapat berbicara dalam bahas Inggris.

Sekarang coba bertanya kepada diri sendiri, coba mengukur diri sendiri, Apakah saya sudah menyiapkan diri dengan baik, sesuai standard yang dimintakan oleh STCW? Apakah saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperbaiki kemampuan diri saya?

Dalam suatu pertanyaan sesudah memukul gong 8 kali pada jam 08:08:08 tanggal 08-08-08 (persemian GPI): Kenapa pelaut Indonesia dilecehkan diluar negari? Jawabannya adalah hal yang diatas tersebut, yaitu penyiapan diri, sebenar-benarnya siap. Dalam arti siap melakukan pekerjaan dengan benar dan melebihi yang diinginkan oleh pengguna jasa tenaga kerja tsb. Serta dapat menunjukan sertifikat yang sesuai dan dikeluarkan oleh institusi yang mempunyai standard sesuai STCW dan bersertifikat pula.

Jikalau suluruh komponen yang berhubungan dengan kepelautan ini telah melebihi standar minimumnya, niscaya penghargaan terhadap pelaut tersebut akan meningkat. Tugas kita bersamalah untuk memperjuang harkat dan martabat pelaut Indonesia ini. Kalau kita bersam kita pasti bisa.

Salam

Darul

https://7samudra.wordpress.com

From: bbudiman
Sent: 18 Agustus 2008 8:08

Mungkin cuma miskom aja ya. Tapi kira kira dalam hal apa ya kurang
diperhatikannya.

1. Lowongan kerja tentunya sesuai dengan keperluan masing masing
perusahaan. Saya kebetulan nyari OILER dengan Visa Amerika sampai
sekarang belum dapat. Beberapa hari lalu saya lihat lowongan yang
nyari AB dan Oiler. Kalau kebetulan banyaknya perwira ya karena memang
diseluruh dunia yang kurang perwira.

2. Mungkin sekarang masalahnya bagaimana bawahan bisa bersaing
diantara rekan rekannya yang lain.

a. Kemampuan bahasa Inggris. Khusus untuk hal ini, mereka yg ingin
ditest kemampuan bahasa Inggrisnya dgn Marlin English test bisa datang
ke kantor pt tenaga baru nuansa persada (tlp 021-4754578/9). lihat
situs kami di www.tbnp.co.id SEMUANYA GRATIS

b. Tambahan keterampilan sesuai permintaan. Untuk offshore banyak yg
minta sudah ada BOSIET/HUET. Apakah ini perlu diambil atau nungguin
disekolahkan. Kalau sekolah sendiri lumayan mahal karena sekitar 4,5 juta.

c. COR Flag state lain. Terkadang ada perusahaan yang maunya Pelaut
yang sudah punya Panama atau Liberia dll. Kembali lagi, mau nunggu
dibuatin perusahaan atau mau buat sendiri. Cukup mahala. Untuk Panama
bagi Ratings kapal cargo sekitar usd200an.

Mungkin ada tambahan lain. Silahkan sharing yang positip agar Pelaut
Indonesia tambah jaya.

Intinya, saya rasa tidak ada yang membedakan bawahan dan
atasan/perwira. Semua penting. Hanya masalah kesempatan saja.

Salam saya untuk semua.
Bang Momod




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: